Mitos Kekayaan: Benarkah Hanya Orang Kaya yang Sukses di Indonesia?
Di tengah gegap gempita kehidupan modern, telinga kita sering disuguhi narasi yang seolah-olah mengukir satu-satunya definisi keberhasilan: "Dia sukses banget, bisnisnya tembus miliaran!" atau "Keren, muda-muda sudah punya istana dan mobil mewah!". Tak dapat dipungkiri, di negeri kita, Indonesia, paradigma bahwa harta adalah tolok ukur utama kejayaan masih begitu kental. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang layak kita renungkan bersama: Apakah kaya otomatis berarti sukses? Dan apakah tidak ada parameter lain untuk mengukur capaian hidup seseorang? Mari kita selami lebih dalam.
1. Lingkungan Sosial dan Barometer Materialistik
Indonesia, sebagai bangsa dengan akar budaya kolektif yang kuat, menjadikan pandangan masyarakat sebagai penentu standar sosial. Tak heran, pencapaian individu kerap diukur dari apa yang tampak di permukaan: deretan rumah, koleksi kendaraan, barang-barang mewah, dan gaya hidup. Di jagat media sosial, khususnya Instagram dan TikTok, generasi muda seakan berlomba-lomba memamerkan kehidupan glamor: menyeruput kopi di kafe papan atas, menikmati staycation di resor mahal, hingga unjuk gigi dengan outfit branded. Semua ini secara halus membentuk persepsi publik bahwa "sukses itu sama dengan kaya."
Benarkah pandangan ini mengakar kuat di kalangan anak muda? Berdasarkan survei Indonesia Millennial Report 2020 oleh Alvara Research Center, sekitar 85,5% generasi milenial di Indonesia mengaitkan kesuksesan dengan pencapaian finansial. Hanya sekitar 14% yang menganggap kesuksesan berkaitan dengan kebahagiaan, kontribusi sosial, atau pencapaian intelektual. Ini jelas menunjukkan dominasi aspek ekonomi dalam narasi kesuksesan di benak milenial.
2. Deru Tekanan Sosial yang Tak Terbantahkan
Standar tunggal ini menciptakan tekanan sosial yang begitu nyata. Banyak kaum muda merasa "tertinggal" manakala teman-teman sebayanya sudah memiliki aset atau pekerjaan bergaji fantastis. Fenomena quarter life crisis pun tak terhindarkan, di mana individu berusia 20-an dilanda kecemasan, stres, bahkan depresi karena merasa belum "cukup sukses".
Seberapa parah dampak tekanan ini pada kesehatan mental anak muda? Data dari Kementerian Kesehatan RI (2022) mengungkap fakta mengejutkan: lebih dari 1 dari 4 orang muda mengalami gangguan kesehatan mental ringan hingga sedang. Salah satu faktor pemicunya? Tak lain adalah tekanan pencapaian ekonomi yang tiada henti.
Ironisnya, dalam filosofi Jawa, ada adagium "urip iku mung mampir ngombe" (hidup itu hanya singgah untuk minum) yang dulu merefleksikan kesederhanaan dan spiritualitas. Namun kini, makna mendalam itu seolah tergerus oleh slogan modern "kerja keras, kaya raya, mati masuk surga" yang lebih populer di meme dan konten motivasi.
3. Kaya Tak Selalu Berujung Sukses Sejati
Menyempitkan makna kesuksesan hanya pada kekayaan justru membonsai esensi keberhasilan itu sendiri. Lantas, apakah guru yang mengabdikan diri di pelosok negeri, meski hidup sederhana namun berhasil mencerdaskan generasi bangsa, tidak bisa disebut sukses? Tentu saja mereka sukses! Atau apakah petani yang hidup berkecukupan, mencintai pekerjaannya, dan menemukan kedamaian bersama keluarga bukanlah individu yang berhasil? Mereka adalah contoh nyata bahwa sukses itu multidimensional. Kekayaan finansial hanyalah salah satu elemen, bukan keseluruhan definisi kesuksesan.
Jadi, ketika kita melihat seseorang dengan limpahan harta, ada baiknya kita tidak langsung menyimpulkan bahwa mereka telah mencapai puncak kesuksesan. Seringkali, di balik kilau materi, ada perjuangan, pengorbanan, atau bahkan kehampaan yang tak terlihat mata. Bagaimana menurut Anda, sudah saatnya kita menggeser paradigma ini ke arah yang lebih holistik?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar